Selasa, 04 Oktober 2016




TABLOIDBINTANG.COM –

Banyak ajang pencarian bakat untuk anak-anak, on-air maupun off-air, digelar. Membuat para orangtua, biasanya ibu, terutama yang merasa anaknya berbakat, gelisah. Bingung antara keinginan untuk ikut mendaftarkan atau tidak. Samar antara niat mendukung bakat anak atau mengeksploitasi.

Beberapa waktu lalu, kami bertemu dengan Mayke S. Tedjasaputra, seorang psikolog anak. Menurut pakar play therapist atau cara bermain pada anak yang juga staf pengajar psikologi di Universitas Indonesia ini, boleh-boleh saja orangtua mengikutsertakan anak ke ajang pencarian bakat. 

“Ajang pencarian bakat bisa memberikan pengalaman pada anak untuk mempraktikkan bidang yang dia kuasai, merasakan deg-degannya berkompetisi, juga kesempatan untuk anak belajar bersikap ketika menang maupun kalah. Apakah akan terus berjuang atau berhenti,” ungkap Mayke. Namun, ada beberapa hal yang harus lebih dulu dilakukan orangtua sebelum anak mencapai tahap itu. Apa saja?

Sebelum terlintas pikiran untuk mendaftarkan anak ke ajang pencarian bakat tertentu, ada baiknya orang tua mengenali lebih dulu bakat atau kecerdasan anak. Ada 8 kecerdasan majemuk yang diungkap Mayke secara ringkas.

1. Bahasa
Anak biasanya sangat mudah menyerap kalimat, mengerti, dan mengingatnya. Saat berbicara pun dia sangat fasih.

2. Logika matematika
Anak mampu berpikir logis dan sangat matematis.

3. Gerak tubuh
Anak mempunyai koordinasi tubuh yang bagus atau sangat luwes bergerak, baik yang merupakan motorik kasar maupun motorik halus.

4. Visual
Anak dengan kemampuan mengamati ruang bentuk yang sangat tinggi. Biasanya gemar memainkan puzzle atau balok susun.

5. Naturalis
Anak yang sejak kecil sudah memperlihatkan ketertarikan lebih pada sesuatu yang berkaitan dengan alam, seperti nama-nama hewan, tumbuhan, bebatuan, dan sejenisnya.

6. Musikal
Anak terlihat menyenangi dan mudah mengikuti irama musik atau bebunyian.

7. Interpersonal
Anak yang mudah berkenalan dan berelasi dengan orang lain di sekitarnya. Dia juga mengetahui mood seseorang.

8. Intrapersonal
Anak dengan tipe ini sangat mengenali dirinya sendiri, apa keinginannya, apa pilihannya, serta mudah mengendalikan diri.
stimulasi dan fasilitasi
    
Perlu diketahui, bahwa tahap mengenali bakat anak tidak mungkin dicapai tanpa adanya proses stimulasi.
    
“Intinya, orang tua harus memberikan pengalaman dulu kepada anak. Sejak anak kecil, berikan pengalaman, entah itu yang berkaitan dengan olahraga atau menari, merakit, atau membacakan cerita. Nanti akan terlihat apakah anak bicaranya cepat atau tidak, hasil rakitannya bagus atau tidak,” terang Mayke. “Karena ada anak yang mengingat kata per kata saja sulit, menyanyi pun fals. Pengalaman langsung akan memperlihatkan kemampuan mereka,” imbuhnya.
    
Ketika sudah terlihat minat dan bakat anak, menjadi tugas orang tua untuk memfasilitasi agar kecerdasan yang dimiliki anak bisa berkembang. Kepada anak yang tertarik dengan hewan-hewan, misalnya, maka berikan buku bergambar, ajak ke kebun binatang, atau menghadiri acara-acara terkait. Kalau anak bertanya, coba berikan penjelasan, lebih daripada sekadar yang anak tanya.
    
“Karena bakat tidak terjadi begitu saja. Kalau memang ingin bakat anak bisa menjadi sesuatu, peran orang tua amat diperlukan,” ujar Mayke.
    
Lalu ada kalanya mood anak naik-turun. Peran orang tua menjadi harus lebih ditingkatkan, terutama dari segi komunikasi, kasih sayang, serta sikap peka dan tanggap.
    
“Orangtua bisa mengajak anak bicara, diskusi, tentang apa yang dirasakannya. Jelaskan kepada anak, bahwa dengan terus menekuni bakatnya, maka kelak akan ada hasil yang menjadi kebanggaan diri (bukan orang tua),” urai Mayke. “Pada tahap ini, jangan sampai orang tua menjadi otoriter, jangan sampai keluar kata ‘harus’ kepada anak,” tegasnya.

Perihal ajang pencarian bakat atau perlombaan yang bisa diikuti anak, Mayke memberi penegasan mengenai risiko eksploitasi yang sangat mungkin terjadi.

“Ketika orangtua hanya bisa mencecar, mencari sesuatu yang sifatnya materi (ketenaran dan uang), itulah eksploitasi,” jelas Mayke. “Misalnya, anak sudah masuk waktu istirahat, tidak bisa tampil terlalu sering, tapi orangtua malah memaksa, maka itu eksploitasi karena sudah di luar kemampuan anak,” lanjutnya.

Termasuk dalam hal ini adalah orangtua yang memaksakan bakat anak padahal jelas-jelas tidak berbakat.

“Dimasukkan ke sekolah musik, tapi tidak bisa-bisa – sementara anak yang lain bisa – maka jangan terus dipaksa. Jangan sampai ada perasaan takut anaknya tertinggal dari anak lain. Orang tua harus tahu di mana kapasitas anak,” pungkas Mayke.

AURA.CO.ID

Paling Bnyak Dicari:

Posting Mengikutkan Anak Dalam Ajang Pencarian Bakat, Dukungan atau Eksploitasi? ditampilkan lebih awal di Info Selebriti.



from Info Selebriti http://ift.tt/2duA8ZI
via Abg Montok

0 komentar:

Posting Komentar